INIPOHUWATO — Insiden alat berat kembali menjadi perhatian di kawasan pertambangan emas tanpa izin (PETI) Puncak Borose, Kabupaten Pohuwato. Satu unit ekskavator merek SANY dilaporkan terguling dari kawasan puncak tebing pada Senin malam, 17 Agustus 2026, sekitar pukul 23.00 WITA.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, alat berat tersebut diduga digunakan dalam aktivitas pertambangan di kawasan PETI Puncak Borose.
Sebuah video amatir berdurasi sekitar 29 detik yang diperoleh media ini memperlihatkan kondisi ekskavator berwarna kuning dalam keadaan rusak parah di dasar jurang.
Sejumlah bagian alat berat, termasuk bucket, rantai track, serta bagian kabin operator, tampak terlepas dan berserakan di sekitar lokasi.
Pasca-insiden, operator alat berat tersebut disebut mengalami luka-luka. Namun, berdasarkan informasi yang diperoleh, operator kemudian meninggalkan lokasi kejadian.
Muncul Dugaan Permintaan Rp100 Juta
Di tengah insiden tersebut, muncul informasi lain yang menjadi perhatian, yakni dugaan adanya upaya untuk meredam pemberitaan mengenai keberadaan alat berat dan aktivitas PETI di kawasan tersebut.
Seorang narasumber yang meminta identitasnya dirahasiakan mengaku mendapat informasi mengenai adanya permintaan uang sebesar Rp100 juta yang disebut berkaitan dengan upaya “pengamanan wartawan”.
“Saya dengar dia minta uang Rp100 juta untuk pengamanan wartawan, dibayar dua kali dengan janji berita aman,” ujar sumber tersebut.
Informasi tersebut menyebut seorang warga berinisial JH diduga menjadi pihak yang menghubungkan atau menyampaikan permintaan tersebut.
Namun, hingga berita ini diterbitkan, dugaan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. JH juga belum berhasil dikonfirmasi untuk memberikan klarifikasi atas informasi yang beredar.
Selain itu, belum ada keterangan resmi dari aparat penegak hukum terkait insiden tergulingnya ekskavator maupun dugaan adanya permintaan uang untuk memengaruhi pemberitaan.
Sumber di lapangan juga menyebut persoalan aktivitas alat berat di kawasan tersebut sebelumnya telah dilaporkan kepada aparat penegak hukum. Namun, sejauh ini belum diperoleh penjelasan resmi mengenai tindak lanjut laporan tersebut.
Warga berharap aparat penegak hukum segera melakukan pemeriksaan terhadap lokasi kejadian, termasuk memastikan legalitas aktivitas pertambangan, keberadaan alat berat, serta menelusuri jika benar terdapat dugaan upaya memengaruhi atau meredam pemberitaan media.
Berita ini masih dalam pengembangan dan redaksi terus melakukan penelusuran serta konfirmasi kepada pihak-pihak terkait.


























